Friday, January 31, 2014

Analis Kesehatan yang Kompeten

Ilustrasi : thepathologycenter.org 
Kita tentu sangat sering mendengar Analis Kesehatan harus kompeten. Analis Kesehatan yang kompeten akan mengeluarkan hasil pemeriksaan yang akurat sehingga dapat dijadikan salah satu penentu dalam penanganan kesehatan pasien, pengendalian human error dan peningkatan kualitas. Lalu apa maksud dari kompeten dan kompetensi? Kompeten adalah ketrampilan yang diperlukan seseorang yang ditunjukkan oleh kemampuannya untuk dengan konsisten memberikan tingkat kinerja yang memadai atau tinggi dalam suatu fungsi pekerjaan spesifik. Sedangkan kompetensi adalah apa yang seorang mampu kerjakan untuk mencapai hasil yang diinginkan dari satu pekerjaan. Kinerja atau hasil yang diinginkan dicapai dengan perilaku ditempat kerja yang didasarkan pada pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), sikap (attitude) dan sifat-sifat pribadi lainnya.

Secara umum, kompetensi sendiri dapat dipahami sebagai sebuah kombinasi antara ketrampilan (skill), atribut personal, dan pengetahuan (knowledge) yang tercermin melalui perilaku kinerja (job behavior) yang dapat diamati, diukur dan dievaluasi.

Yang dimaksud dengan kompetensi adalah : seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggungjawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu. Kompetensi profesional didapatkan melalui pendidikan, pelatihan dan pemagangan dalam periode yang lama dan cukup sulit, pembelajarannya dirancang cermat dan dilaksanakan secara ketat, dan diakhiri dengan ujian sertifikasi (Keputusan Mendiknas Nomor 045/U/2002 tentang Kurikulum Inti Pendidikan Tinggi).

Dengan kompetensi yang memadai, Analis Kesehatan akan menghasilkan kinerja dan hasil pemeriksaan yang berkualitas. Kualitas  digambarkan sebagai totalitas keunggulan dari karakteristik suatu produk dan layanan berdasarkan kebutuhan untuk member kepuasan serta memenuhi kebutuhan konsumen.

Di laboratorium klinik, hasil pemeriksaan sangat bergantung juga dengan faktor sumber daya manusia, faktor sumber daya manusia bisa jadi merupakan salah satu faktor yang paling sulit untuk dikendalikan dan distandarisasi. Karena kinerjanya dapat dipengaruhi oleh banyak hal, seperti usia, tahap pemikiran, kesehatan fisik, sikap, emosi, dan adanya kecenderungan beberapa kesalahan umum seperti kekeliruan dan berat sebelah. Kesalahan manusia atau human error bahkan berkontribusi sangat besar dalam hal ini.
Oleh karena itu, manajemen laboratorium harus memastikan kompetensi semua sumber daya manusia yang mengoperasikan perlengkapan spesifik, mengerjakan pemeriksaan dan kalibrasi, mengevaluasi hasil, mengevaluasi kegiatan pemantapan mutu, dll. Teknisi dengan tugas khusus harus memenuhi syarat berdasarkan pendidikan yang tepat, pelatihan, pengalaman sesuai dengan yang dibutuhkan.

Pustaka :
prodia.co.id
labkesehatan.blogspot.com

Thursday, January 30, 2014

Haemophilus influenza : si bakteri penyebab influenza

Selama ini kita hanya mengetahui  penyebab influenza adalah virus. Namun ternyata bakteri juga berperan sebagai salah satu penyebab influenza. Dialah Haemophilus influenza yang pertama kali dijelaskan pada tahun 1892 oleh Richard Pfeiffer selama pandemi influenza. 
Haemophilus influenzae hidup komensal pada nasopharyng manusia normal (anak dan dewasa) dan tidak pernah mencapai cavum oris serta belum pernah dilaporkan dapat hidup pada hewan.
Haemophilus influenzae yang sebelumnya disebut basil Pfeiffer merupakan bakteri gram negative, kokobasil, non motil, serta tidak membentuk spora. H.influenzae ini termasuk family Pasteurellaceae, umumnya hidup secara aerobik, tetapi dapat juga
tumbuh sebagai anaerob fakultatif.
H.influenzae memiliki serotype dan dibedakan menjadi dua kategori utama yaitu unencapsulated strain (tidak berkapsul) dan encapsulated strain (berkapsul). Encapsulated strain diklasifikasikan berdasarkan antigen kapsuler yang berbeda, ada enam jenis encapsulated strain yang secara umum dikenali yaitu a,b,c,d,e,dan f. Sedangkan unencapsulated strain disebut nontypeable (NTHI) karena tidak memiliki antigen kapsuler.
Kapsul polisakarida tersebut (a-f) menyebabkan kuman resisten untuk difagosit dan dilisiskan oleh komplemen. Salah satu tipe kapsul tersebut yaitu Hib diketahui menjadi penyebab utama dari epiglotitis, pneumonia, bakteriemia,dan akut bacterial meningitis.
Unencapsulated Haemophilus influenzae memiliki daya invasive yang lemah, namun dapat juga menyebabkan penyakit seperti otitis media, konjungtivitis, dan sinusitis pada anak.
Umumnya H.influenzae yang hidup komensal adalah tipe NTHi (unencapsulated), namun encapsulated H.influenzae (Hib) dapat pula ditemukan pada saluran napas atas 3-7% manusia normal. Frekuensi infeksi H.influenzae meningkat pada pasien
dengan asplenia, anemia sel sabit, splenektomi, keganasan, serta anak di bawah 2 tahun tanpa vaksinasi.
Diagnosis H.influenzae secara laboratoris dapat dilakukan dengan kultur, latex particle agglutination, maupun PCR.
Spesimen diambil dari dari bagian tubuh yang steril dari kuman tersebut. Adanya H.influenzae pada sputum atau dari nasopharyng tidak mengindikasikan adanya infeksi H.influenzae sebab kuman tersebut dapat ditemukan pula pada manusia normal dengan spesimen tersebut.
Beda halnya apabila kuman H.influenzae ditemukan di LCS atau darah, hal tersebut
menunjukkan bahwa terdapat infeksi H.influenzae Haemophilus influenzae juga memiliki interaksi dengan Streptococcus pneumonia yang juga merupakan flora normal saluran nafas atas.
Pada salah satu penelitian in vitro dikemukakan bahwa S.pneumonia mendominasi pertumbuhan H.influenza dengan cara menghasilkan hidrogen peroksida dan mengurangi area tumbuh H.influenzae. Apabila H.influenzae bersama dengan S.pneumonia ditempatkan bersama pada cavum nasi selama 2 minggu, hanya H.influenzae saja yang akan bertahan hidup karena S.pneumonia yang mati akan mengirimkan sinyal kepada sistem imun host untuk memfagositnya.
Haemophilus influenzae dalam pertumbuhannya membutuhkan faktor X dan faktor V. Faktor X atau hemin merupakan substansi kompleks yang terdapat ikatan antara Fe dan porfirin. Secara spesifik, hemin adalah protoporfirin IX yang mengandung ion Fe dan clorida.
Sedangkan faktor V adalah nicotinamide adenine dinucleotide (NAD) merupakan koenzim yang berperan dalam reaksi redox pada metabolisme sebagai pembawa elektron.
Kedua faktor pertumbuhan tersebut terdapat di dalam eritrosit. Di laboratorium kedua faktor tersebut didapatkan dengan cara memanaskan darah pada suhu 80OC, eritrosit melepaskan NAD dan hemin serta membuat media tersebut berwarna coklat sehingga disebut coklat agar.
Pertumbuhan H. influenzae umumnya dilakukan pada inkubasi CO2 5,5% dengan
suhu 37OC dan pH optimum 7,6 walaupun kuman tersebut dapat tumbuh pada suasana aerob dengan menggunakan nitrat sebagai akseptor elektron final. Haemophilus influenzae juga dapat tumbuh pada zona hemolisis Staphylococcus aureus karena di zona tersebut terdapat factor X dan V yang dibutuhkannya untuk
tumbuh, sebaliknya H.influenzae tidak akan tumbuh diluar zona hemolisis S.aureus karena kurangnya nutrisi di zona tersebut.

Pustaka
Duta Indriawan, optimalisasi agar coklat darah manusia sebagai media uji sensitivitas antibiotik terhadap Haemophilus influenzae : peran pencucian eritrosit sebanyak empat kali, proposal Karya Tulis Ilmiah mahasiswa program strata-1 kedokteran umum, PROGRAM PENDIDIKAN SARJANA KEDOKTERAN, FAKULTAS KEDOKTERAN, UNIVERSITAS DIPONEGORO, Semarang, 2012

Wednesday, January 15, 2014

Cara mengontrol gula darah

Banyak penderita DM yang merasa putus asa ketika mengetahui dirinya sudah divonis DM. Apalagi dengan banyaknya komplikasi DM yang sangat mengerikan bahkan banyak berakhir dengan kematian. Namun ternyata hal tersebut dapat dicegah asalkan disiplin dalam mengontrol gula darah. Berikut cara pengontrolan kadar gula darah yang meliputi : 

1.Penjagaan makanan. Penderita sebaiknya mengonsumsi makanan dengan karbohidrat rendah dan lambat menjadi gula. Perbanyak mengonsumsi buah dan sayuran terutama kubis, kacang panjang, dan paprika untuk memperbaiki fungsi pankreas. Pengaturan pola makan membutuhkan kedisiplinan. Sebaiknya konsultasikan dengan ahli gizi mengenai pola makan yang tepat bagi penderita DM. 

2.Olahraga yang teratur. Olahraga yang benar dapat memberikan beberapa manfaat, antara lain menurunkan kadar gula darah (dengan mengurangi resistensi insulin, meningkatkan sensivitas insulin), menurunkan berat badan, mencegah kegemukan, serta mengurangi kemungkinan terjadinya komplikasi 

3.Minum obat secara rutin. Penggunaan obat penurun gula darah diberikan setelah dengan cara pengaturan makan dan olahraga kadar gula darah belum terkontrol. 

4.Cukup istirahat dan menghindari stress. Faktor stress juga bisa berpengaruh terhadap peningkatan kadar gula darah. Peran dan dukungan dari keluarga sangat dibutuhkan untuk membantu dan mengingatkan penderita DM agar bisa mengelola penyakitnya dengan baik. Jika kada gula darah dapat  terkontrol dengan baik, insyaAllah tidak akan terjadi komplikasi penyakit DM. Semoga bermanfaat. 
Oleh : dr. Adika Mianoki

Sumber : Majalah Kesehatan Muslim edisi 2

Tuesday, January 14, 2014

Elektrolit Klorida


Klorida merupakan anion utama dalam cairan ekstrasel. Pemeriksaan konsentrasi klorida dalam plasma berguna sebagai diagnosis banding pada gangguan keseimbangan asam-basa, dan menghitung anion gap.Jumlah klorida pada orang dewasa normal sekitar 30 mEq per kilogram berat badan. Sekitar 88% klorida berada dalam cairan ekstraseluler dan 12% dalam cairan intrasel. Konsentrasi klorida pada bayi lebih tinggi dibandingkan pada anak-anak dan dewasa. Keseimbangan Gibbs-Donnan mengakibatkan kadar klorida dalam cairan interstisial lebih tinggi dibanding dalam plasma. Klorida dapat menembus membran sel secara pasif. Perbedaan kadar klorida antara cairan interstisial dan cairan intrasel disebabkan oleh perbedaan potensial di permukaan luar dan dalam membran sel. Jumlah klorida dalam tubuh ditentukan oleh keseimbangan antara klorida yang masuk dan yang keluar. Klorida yang masuk tergantung dari jumlah dan jenis makanan. Kandungan klorida dalam makanan sama dengan natrium. Orang dewasa pada keadaan normal rerata mengkonsumsi 50-200 mEq klorida per hari, dan ekskresi klorida bersama feses sekitar 1-2 mEq perhari. Drainase lambung atau usus pada diare menyebabkan ekskresi klorida mencapai 100 mEq perhari. Kadar klorida dalam keringat bervariasi, rerata 40 mEq/L. Bila pengeluaran keringat berlebihan, kehilangan klorida dapat mencapai 200 mEq per hari. Ekskresi utama klorida adalah melalui ginjal.
Nilai Rujukan Klorida
serum bayi baru lahir - serum anak  - serum dewasa  - keringat anak  - keringat dewasa - urine   - feses   : 94-112 mmol/L : 98-105 mmol/L : 95-105 mmol/L : <50 mmol/L : <60 mmol/L : 110-250 mmol/24 jam : 2 mmol/24 jam

Sumber :
Fisiologi dan Gangguan Keseimbangan Natrium, Kalium dan Klorida  serta Pemeriksaan Laboratorium, Rismawati Yaswir, Ira Ferawati, Jurnal Kesehatan Andalas. 2012; 1(2)

Wednesday, January 8, 2014

Eosinofil

Eosinofil memiliki diameter kira-kira 8 μm dengan inti sel biasanya berupa bilobus, kadang dapat ditemui tiga atau lebih lobus. Eosinofil ditandai oleh granul kristaloid besar yang dikenal sebagai granul  spesifik atau sekunder, berwarna merah terang setelah pewarnaan dengan zat pewarna asam seperti eosin pada mikroskop cahaya.
Pembentukan eosinofil terjadi di sum-sum tulang yang merupakan tempat terjadinya hematopoiesis. Pematangan granulosit ditandai dengan sintesis protein oleh retikulum endoplasma kasar dan  kompleks Golgi dalam dua tahap. Tahap pertama, protein yang dihasilkan akan dikemas dalam granul  azurofilik. Pada tahap kedua, protein yang dihasilkan dikemas dalam granul spesifik yang digunakan untuk  berbagai aktivitas.
Diferensiasi eosinofil terjadi akibat pengaruh dari T-cell derived eosinophilopoietic cytokines dan  growth factor yaitu interleukin-5 (IL-5), interleukin-3 (IL-3), dan Granulocyte/Macrophage-Colony Stimulating Factor (GM-CSF). IL-3 dan GM-CSF memiliki peran dalam hematopoiesis turunan sel darah yang lain, sedangkan IL-5 bersifat lebih spesifik terhadap perkembangan dari eosinofil
Eosinofil memiliki fungsi yang dijalankan dalam peran yang berbeda, yaitu dalam peran efektor dan peran kolaboratif. Eosinofil memiliki kemampuan melakukan fagositosis dan eliminasi bakteri dan mikroorganisme lainnya. Eosinofil menghasilkan dua mediator lipid yang terlibat dalam penyakit alergi  (termasuk asma) yaitu leukotrien C4 dan PlateletActivating Factor (PAF). Mediator tersebut menyebabkan kontraksi otot polos saluran napas, meningkatkan produksi mukus, meningkatkan permeabilitas vaskular, dan membantu infiltrasi eosinofil dan neutrofil. Eosinofil diyakini memiliki kemampuan untuk bekerja sama dengan limfosit dan sel imun serta mesenkimal lain yang berperan dalam kesehatan dan penyakit, seperti kemampuan berperan sebagai antigen presenting cell (APC)

Sumber : Demas Nico M. Manurung, Ellyza Nasrul, Irvan Medison , Gambaran Jumlah Eosinofil Darah Tepi Penderita Asma Bronkial di Bangsal Paru RSUP Dr. M. Djamil Padan, Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Jurnal Kesehatan Andalas. 2013

Friday, January 3, 2014

Pengaruh vitamin terhadap Leukosit


Pertahanan tubuh manusia tidak lepas dari peranan leukosit. Leukosit merupakan sel yang dapat merespon adanya benda-benda asing yang masuk ke dalam tubuh yang dapat menimbulkan peradangan dan infeksi. Pada umumnnya, leukosit mempunyai berbagai macam jenis dan fungsi. Secara garis besar, jenis-jenis leukosit memiliki tugas yang sama yaitu sebagai pertahanan terhadap benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Jenis-jenis leukosit tersebut yaitu neutrofil, eosinofil, basofil, limfosit, dan monosit. Sistem pertahanan tubuh tidak selamanya mampu untuk melawan benda asing, misalnya virus, bakteri patogen, atau produk-produk bakteri. Oleh karena itu, perlu adanya dukungan untuk meningkatkan daya guna leukosit, yaitu berupa zat nonenzimatik. Zat nonenzimatik tersebut dapat berupa vitamin. Vitamin yang berperan dalam perbaikan sel yaitu vitamin C dan E. Vitamin E digunakan untuk mempertahankan dan melindungi lipid di dalam tubuh, sedangkan vitamin C berfungsi untuk melindungi cairan dalam tubuh, seperti plasma darah. Selain itu, vitamin C melindungi bagian darah yang sensitif terhadap oksidan dan melindungi vitamin. Vitamin E itu terbagi menjadi 2 jenis yaitu tokoferol dan tokotrienol. Tokotrienol diyakini memiliki sifat antioksidan tinggi yaitu 50 kali lebih besar dalam induksi peroksidasi lipid dan 6,5 kali lebih besar sebagai pelindung dari kerusakan oksidatif sitokrom bila P-450 dibandingkan dengan α-tokoferol. Menurut fungsinya di dalam tubuh, vitamin E memegang peranan penting dalam perbaikan sel.