Monday, August 11, 2014

Buku Saku Analis Kesehatan revisi ke-4

Judul Buku Saku Analis Kesehatan revisi ke-4
Penulis Dedy Arianda
Penerbit Analis Muslim Publisher
Tahun
 Ramadhan 1435 H / Juli 2014
Tebal
 : 100 halaman
Ukuran : 10x10 cm

Analis Kesehatan adalah profesi di bidang medis atau kesehatan yang fokus dalam pelayanan pemeriksaan laboratorium. Saat ini popularitas profesi ini sedang naik daun,  disebabkan oleh kesadaran masyarakat akan kesehatan semakin membaik, ini terbukti dari meningkatnya permintaan masyarakat untuk melakukan pemeriksaan laboratorium rutin dan  meningkatnya permintaan medical check up untuk pemeriksaan laboratorium.
Saat ini juga telah banyak dibuka sekolah-sekolah analis baru dan fakultas-fakultas yang mempelajari ilmu analis. Sehingga dengan adanya buku yang praktis dan mudah untuk dipahami akan sangat membantu untuk mempelajari berbagai macam pemeriksaan laboratorium.
Kendala yang sering terjadi saat ini adalah banyaknya para analis yang sudah lama bekerja terkadang lupa dengan materi-materi dasar tentang ilmu dasar Analis kesehatan akibat penggunaan teknologi yang serba otomatis.
Sehingga dengan terbitnya buku ini, diharapkan dapat membantu untuk merefresh kembali imu lama yang pernah dipelajari. Hingga saat ini BSAK atau Buku Saku Analis Kesehatan telah tersebar ke seluruh wilayah indonesia.
Di dalam buku ini akan ditemui begitu banyak materi-materi ilmu analis yang begitu sangat familiar dan terpenting namun sering dilupakan, karena itu dengan buku ini diharapkan dapat sangat membantu.
Apalagi BSAK didesain dengan ukuran saku sehingga sangat praktis untuk dikantongi dan dapat dibaca dimanapun. Buku ini didominasi oleh gambar-gambar yang berwarna (full colour) baik itu gambar penjelas materi, gambar mikroorganisme, hasil reaksi pemeriksaan, dsb.
Ditambah lagi hausnya analis di indonesia akan kebutuhan buku-buku analis yang asli buatan seorang analis (bukan dokter patologi klinik) dan buku buatan orang indonesia (bukan buku terjemahan) sehingga cocok dengan kurikulum yang ada di indoensia.
Buku ini dapat digunakan untuk mahasiswa Analis karena memang materi dari buku ini disari dari ilmu perkuliahan. Namun di lapangan buku ini juga sangat pas untuk SMK Analis, karena selain berisi materi yang telah dipelajari juga berisi materi yang merupakan pengembangan dari ilmu analis SMK.
Berdasarkan pengalaman di lapangan buku ini banyak digunakan pada :
1. Panduan praktek-praktek di laboraotium baik bekerja maupun pendidikan
2. Pegangan untuk Praktek Kerja Lapangan (PKL) baik di Laboratorium Klinik maupun di Rumah Sakit
3. Berisi materi UAP (Ujian Akhir Program)
4. Bermanfaat untuk Uji Kompetensi (UKOM) Analis Kesehatan
5. Dan masih banyak lagi
Pada buku revisi ke-4 ini yang berbeda dari buku sebelumnya adalah adanya perombakan baik dari segi materi maupun bahasa yang digunakan, sehingga lebih mudah untuk dipahami.
Mengapa sekarang dinamakan "revisi"? Karena ternyata orang indonesia belum banyak kesadaran dalam membaca buku. Sehingga ketika terbit edisi ke-2 dari buku ini, banyak yang mengira buku ini adalah lanjutan dari edisi pertama. Sehingga masih banyak yang menanyakan dan ingin membeli edisi pertama juga. Padahal maksud edisi adalah buku yang  sama namun direvisi isinya sehingga terdapat materi baru atau editing materi buku.
Saat ini buku revisi ke-4 lebih tebal karena terdapat penambahan materi baru. Adapun daftar isi dan beberapa contoh isi buku pada revisi ketiga dapat dilihat di bawah ini : 

Pusat pembelian buku klik di sini >>> ORDER CENTRE














Pusat pembelian buku klik di sini >>> ORDER CENTRE

Perhatian Penting :
  1. Pemesanan harus menggunakan format yang benar, wajib menyertakan kode pos.
  2. Menulis alamat selengkap mungkin agar paket pengiriman lebih cepat sampai tujuan
  3. Pembayaran dilakukan setelah mendapatkan balasan pemesanan sesuai format 


Cara Pembayaran
Pembayaran dilakukan setelah mendapatkan balasan pemesanan sesuai format di atas. Pembayaran dapat dilakukan melalui rekening berikut:
BANK BRI : A.N. Dedy Arianda = 7313-01-003219-53-9
atau
BANK MANDIRI : A.N. Dedy Arianda = 900-00-0778569-5
atau
BANK BTN : A.N. Dedy Arianda 00535-01-61-000274-8 

Setelah melakukan pembayaran melalui No. Rekening di atas, kami mohon Anda segera melakukan konfirmasi dengan menyertakan NOMINAL dan TUJUAN BANK TRANSFER (BRI/MANDIRI/BTN) kepada kami melalui no: 085697529868 (SMS/WA) atau pin BB (767BDB81) agar pengiriman barang dapat lebih cepat lagi kami lakukan. Setelah konfirmasi dari Anda kami terima, Insya Allah kami langsung mengirimkan buku pesanan Anda.
Terimakasih.

Monday, August 4, 2014

Meja Laptop Portable Murah

Bekerja, belajar atau bermain game menggunakan laptop lebih mudah dan menyenangkan daripada menggunakan komputer dekstop. Selain harganya sekarang yang semakin lebih murah, alasan utama adalah mobilitas. Bekerja atau sekedar ngetik artikel bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja. Namun sayang, ketika melakukan itu semua timbul masalah baru. Saat mobile, kita kesulitan meletakkan laptop. Diletakkan di paha lama-kelamaan akan lelah dan sakit. Diletakkan dilantai, punggung kita yang sakit.

Ayo pesen sekarang sebelum kehabisan.

Cuma Rp. 150.000 (belum termasuk ongkir)

Spesifikasi Meja Laptop Portable :

  • Terbuat dari plastik composite yang kokoh, kuat, ringan dan dapat dilipat.
  • Ketinggian meja laptop portable dapat disesuaikan max. 30 cm
  • Dilengkapi dengan 2 cooling fans menggunakan power USB
  • Tersedia mouse pad, tempat bolpen dan gelas
  • Flexible (Dapat dimasukkan ke dalam tas)
  • Praktis mudah disimpan tanpa memakan tempat
  • Kompatible dengan segala ukuran Notebook
  • Ukuran produk : 285 x 316 x 36 mm
  • Sebelum dilipat :56 x 32 cm
  • Setelah dilipat : 28 x 32 cm
  • Sudut Penyangga : up to 70°
  • Berat Bersih : 1,5 Kg
  • Berat pengiriman : 2 Kg
Pemesanan ketik MEJALAPTOP#JUMLAH#NAMA#ALAMAT LENGKAP#TELP
kirim ke 085697529868 (sms/whatsapp) atau Pin:5FB58B32

Cara Pembayaran
Pembayaran dilakukan setelah mendapatkan balasan  pemesanan sesuai format di atas. Pembayaran dapat dilakukan melalui rekening berikut:
BANK BRI : A.N. Dedy Arianda = 7313-01-003219-53-9
atau
BANK MANDIRI : A.N. Dedy Arianda = 900-00-0778569-5
atau
BANK BTN : A.N. Dedy Arianda 00535-01-61-000274-8 

Setelah melakukan pembayaran melalui No. Rekening di atas, kami mohon Anda segera melakukan konfirmasi dengan menyertakan NOMINAL dan TUJUAN BANK TRANSFER (BRI/MANDIRI/BTN) kepada kami melalui no: 085697529868 (SMS/WA) atau pin BB (5FB58B32) agar pengiriman barang dapat lebih cepat lagi kami lakukan. Setelah konfirmasi dari Anda kami terima, Insya Allah kami langsung mengirimkan barang pesanan Anda.
Terimakasih.


Tuesday, July 29, 2014

Bakteri pada gigi


Gigi merupakan salah satu bagian mulut yang sangat penting, selain untuk mengunyah makanan gigi juga sangat menentukan penampilan seseorang. Gigi yang penuh dengan plak akan sangat mengganggu penampilan dan kesehatan.
Bakteri sangat berperan pada proses terjadinya plak. Plak pada gigi hampir tiga perempat bagian terdiri atas berbagai macam bakteri gram- positif dan gram-negatif, termasuk bakteri fakultatif anaerob dan obligat anaerob. 
Banyaknya bakteri pada mulut seseorang tergantung pada kesehatan dan kebersihan mulut seseorang, sedangkan jenis bakterinya berbeda pada berbagai tempat dalam rongga mulut. Bakteri Streptococcus, Stafilococcus, Lactobacillus, dan bakteri bentuk filament merupakan mikroorganisme yang sering dapat diisolasi dari lesi karies yang dalam. Di antara kelompok bakteri ini ternyata streptococcus paling sering ditemukan, sehingga dikatakan bahwa bakteri ini sangat berperan pada penyakit pulpa gigi. Streptococcus yang paling sering ditemukan adalah Streptococcus mutans.
Proses pembentukan plak diawali dengan pembentukan pelikel gigi dimana pada tahap ini permukaan gigi akan dibalut oleh pelikel glikoprotein. Pelikel tersebut berasal dari saliva, cairan sulkular, produk sel bakteri, pejamu, dan debris. Kolonisasi bakteri akan dijumpai dalam waktu beberapa jam pada pelikel gigi yang didominasi oleh bakteri fakultatif gram-positif, seperti Actynomyces viscosus, Streptococcus sanguis danStreptokokus sp. 
Massa plak kemudian mengalami pematangan bersamaan dengan pertumbuhan bakteri yang telah melekat, maupun kolonisasi dan pertumbuhan spesies lainnya. Tahap akhir akan berlangsung kolonisasi sekunder dan pematangan plak. Pengkoloni sekunder adalah bakteri yang tidak turut sebagai pengkoloni awal ke permukaan gigi yang bersih, diantaranya Prevotella intermedia, Prevotella loescheii, spesies Capnocytophaga, Fusobacterium nucleatum, dan Porphyromonas gingivalis, melekat ke sel bakteri yang telah berada dalam massa plak.
Jenis bakteri yang dominan pada plak gigi adalah jenis streptokokus, sedangkan jenis bakteri yang lain ditemukan bervariasi, begitu juga jumlahnya Streptokokus mempunyai sifat-sifat tertentu dalam proses karies gigi, yaitu memfermentasi berbagai jenis karbohidrat menjadi asam sehingga mengakibatkan penurunan pH, membentuk dan menyimpan polisakarida intraseluler (levan) dari berbagai jenis karbohidrat yang dapat dipecahkan kembali oleh bakteri bila karbohidrat kurang sehingga menghasilkan asam terus menerus, membentuk polisakarida ekstraseluler (dekstran) yang menghasilkansifat-sifat adhesif dan kohesif plak pada permukaan gigi, serta menggunakan glikoprotein dan saliva pada permukaan gigi.
Plak yang terus dibiarkan akan dapat menyebabkan karies gigi dan penyakit periodontal.
Pada karies diawali dengan mengkonsumsi beberapa jenis karbohidrat makanan misalnya sukrosa dan glukosa yang kemudian diragikan oleh bakteri dan membentuk asam sehingga menyebabkan pH plak akan menurun sampai di bawah 5 dalam tempo 1-3 menit. Penurunan pH yang berulang- ulang dalam waktu tertentu akan menyebabkan demineralisasi permukaan yang rentan dan proses kariespun dimulai. Makin sering keadaan asam di bawah pH 5,5 terjadi dalam plak, makin cepat karies terbentuk dan berkembang.
Sedangkan penyakit periodontal yang merupakan penyakit infeksi diawali oleh bakteri yang terakumulasi dalam plak sehingga menyebabkan peradangan pada gingiva. Plak yang terletak pada gigi dekat gingiva, prosesnya akan berlangsung mulai dari marginal dan mengarah pada penyakit-penyakit periodontal (gingivitis marginal, periodontitis marginal, bahkan hingga abses periodontal).
Plak pada margin gingiva jika tidak dihilangkan secara cermat akan mengalami pengapuran dan menjadi keras. Plak yang mengeras ini disebut kalkulus yang tidak dapat dihilangkan dengan menggunakan sikat gigi ataupun benang gigi, namun diperlukan bantuan dokter gigi untuk menghilangkannya. Pasien dengan penyakit periodontal sering mengabaikan penyakit tersebut karena sakit pada giginya tidak mengganggu aktivitas, jarang konsultasi ke dokter gigi sehingga proses periodontal akan terus berlanjut jika tidak dikenali dan ditangani lebih lanjut. Deteksi terlambat pada proses periodontal menyebabkan pembentukan dan peradangan poket, seringkali gigi sudah goyang dan penanganan lebih sulit. 

Sumber :
www.repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/28868/4/Chapter%20II.pdf
www.pps.unud.ac.id/thesis/pdf_thesis/unud-230-197837169-bab%20i.pdf

Thursday, July 3, 2014

Pemeriksaan Laboratorium untuk Alergi

Ilustrasi : www.allergytestinglaboratory.com.au
Alergi merupakan suatu reaksi menyimpang dari mekanisme pertahanan tubuh terhadap zat/bahan yang secara normal tidak berbahaya bagi tubuh, dan melibatkan sistem kekebalan tubuh terutama antibodi imunoglobulin E (IgE). Alergi bisa terhadap makanan, hewan, jamur, obat, dan lain-lain.
Alergi terjadi karena pengaruh faktor genetik, lingkungan, dan gaya hidup tidak sehat. Para ahli
juga menyebutkan alergi sebagai gangguan imunitas tubuh akibat kelainan genetika.
Adapun gejala alergi yaitu :
- Mata merah, bengkak, dan berair
 - Hidung mengeluarkan banyak lendir dan bersin saluran napas berlendir, batuk, sesak
napas, napas berbunyi (seperti asma)
 - Lambung / usus halus menjadi lebih aktif, sehingga menyebabkan diare dan gangguan
pencernaan lainnya
 - Persendian terasa sakit, kemerahan, dan bengkak
 - Kulit menjadi berbercak merah / timbul biduran disertai dengan rasa gatal
Diagnosis alergi dapat ditetapkan berdasarkan gejala yang dialami dan kemungkinan alergen penyebab, pe­meriksaan fisik untuk melihat gejala alergi yang tampak, dan apabila masih terdapat keraguan harus dilakukan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan laboratorium untuk gejala antara lain :
1.      Hitung eosinofil total
Pemeriksaan hitung eosinofil total perlu dilakukan untuk menunjang diagnosis dan mengevaluasi pengobatan penyakit alergi. Eosinofilia apabila dijumpai jumlah eosinofil darah lebih dari 450 eosinofil/µL. Hitung eosinofil total dengan kamar hitung lebih akurat dibandingkan persentase hitung jenis eosinofil sediaan apus darah tepi dikalikan hitung leukosit total. Eosinofilia sedang (15%-40%) didapatkan pada penyakit alergi, infeksi parasit, pajanan obat, keganasan, dan defisiensi imun, sedangkan eosinofilia yang berlebihan (50%-90%) ditemukan pada migrasi larva.
2.      Hitung eosinofil dalam secret
Peningkatan jumlah eosinofil dalam apusan sekret hidung merupakan indikator yang lebih sensitif dibandingkan eosinofilia darah tepi, dan dapat membedakan rinitis alergi dari rinitis akibat penyebab lain. Meskipun demikian tidak dapat menentukan alergen penyebab yang spesifik. Eosinofilia nasal pada anak apabila ditemukan eosinofil lebih dari 4% dalam apusan sekret hidung, sedangkan pada remaja dan dewasa bila lebih dari 10%. Hitung eosinofil juga dapat dilakukan pada sekret bronkus dan konjungtiva.
3.      Kadar serum IgE total
Peningkatan kadar IgE serum sering didapatkan pada penyakit alergi sehingga seringkali dilakukan untuk menunjang diagnosis penyakit alergi. Pasien dengan dermatitis atopi memiliki kadar IgE tertinggi dan pasien asma memiliki kadar IgE yang lebih tinggi dibandingkan rinitis alergi. Kadar IgE total didapatkan normal pada 50% pasien alergi, dan sebaliknya meningkat pada penyakit non-alergi (infeksi virus/jamur, imunodefisiensi, keganasan).
4.      Kadar IgE spesifik
Pemeriksaan kadar IgE spesifik untuk suatu alergen tertentu dapat dilakukan secara in vivo dengan uji kulit atau secara in vitro dengan metode RAST (Radio Allergosorbent Test), ELISA(Enzyme-linked Immunosorbent Assay), atau RAST enzim. Kelebihan metode RAST dibanding uji kulit adalah keamanan dan hasilnya tidak dipengaruhi oleh obat maupun kelainan kulit. Hasil RAST berkorelasi cukup baik dengan uji kulit dan uji provokasi, namun sensitivitas RAST lebih rendah

Referensi
www.prodia.co.id/penyakit-dan-diagnosa/alergi/pdf
www.saripediatri.idai.or.id/pdfile/11-3-5.pdf
www.prodia.co.id/alergi

Tuesday, April 29, 2014

Dengan Alat ini semua pasien pria bisa periksa sperma sendiri

Ilustrasi : trakfertility.com
Teknologi yang semakin canggih membuat semua pemeriksaan Laboratorium semakin mudah dilakukan. Bahkan pada akhir-akhir ini penemuan-penemuan alat pemeriksaan laboratorium diarahkan kepada kemandirian pasien untuk memeriksa sendiri tanpa memerlukan tenaga Analis Kesehatan lagi.

Saat ini ilmuwan telah menemukan perangkat portabel untuk menguji kesuburan para pria. Cara ini dianggap sebagai solusi bagi pria yang sungkan menguji kesuburan mereka ke dokter. Cukup berada di rumah, pria dapat menguji kualitas spermanya. 

Melansir Daily Mail edisi Senin 28 April 2014, dua peneliti Amerika Serikat, Greg Sommer dan Ulrich Schaff menamakan perangkat itu TrakFertility. 

Perangkat ini diklaim bisa mendeteksi hasil kesuburan sperma dalam hitungan menit. Peneliti menegaskan, hasilnya pun seakurat dengan pemeriksaan laboratorium.

Tak cukup membuat perangkatnya saja, kedua peneliti juga tengah mengerjakan aplikasimobile yang memungkinkan pria mempelajari hasil uji melalui ponsel mereka. Jika belum puas dengan hasil, setidaknya tes itu bisa jadi bekal saat berkonsultasi dengan dokter. 

"Perangkat ini memungkinkan seseorang menguji dan melacak kesuburan mereka dari kenyamanan dan privasi rumah mereka," jelas Sommer dalam Jurnal Albuquerque.

Sistem perangkat disebutkan akan bekerja secara mudah untuk dianalisa. "Ini adalah sistem diagnosa yang portabel dan mudah digunakan, dengan keakuratan tes laboratorium klinis," tambah Sommer. 

Bersama rekan penelitinya, Sommer tengah fokus memasarkan perangkat mereka ke konsumen dengan kemitraan perusahaan medis. Produk diperkirakan bisa dipasarkan pada awal tahun depan. 

Sommer mengatakan perangkat itu bisa jadi solusi uji kesuburan yang selama ini hanya fokus pada wanita saja. "Jadi kami ingin membantu orang hamil dalam cara yang yang tak pernah dilakukan sebelumnya."

Selama pengujian, uniknya tercatat satu dari lima orang yang menjalani tes memiliki jumlah sperma rendah yang dapat mengganggu pembuahan. 

Kisah temuan perangkat itu tercetus saat keduanya membuat perangkat portabel untuk menguji kesuburan pria saat keduanya bekerja di Laboratorium Nasional Sandia di California. Di laboratorium ini, keduanya menciptakan perangkat yang cepat mendeteksi racun atau ancaman biologis lainnya dalam keadaan darurat.

Selanjutnya, keduanya mendapatkan lisensi teknologi dari laboratorium itu untuk mendirikan perusahaan start-up, SandStone Diagnostic Inc. Perusahaan ini dikhususkan mengembangkan seperangkat uji kesuburan. Akhirnya dinamakan TrakFertility.

Sumber : www.teknologi.news.viva.co.id/news/read/500288-pria-bisa-uji-sperma-di-rumah-dengan-alat-ini

Tuesday, April 15, 2014

Memipet Darah dengan Mulut


Memipet darah melalui mulut biasanya dilakukan pada pemeriksaan yang menggunakan pipet seperti pemeriksaan LED (Laju Endap Darah), pemeriksaan hemoglobin cara Sahli, dan pemeriksaan lainnya. Pemeriksaan darah darah ini dilakukan di laboratorium hematologi sederhana, entah alasan apa atau karena keterbatasan alat sehingga banyak yang masih menggunakan cara yang sangat ekstrim yaitu menghisap darah dengan mulut. Di Indonesia mungkin teknik ini sudah punah 6 tahun belakangan ini.

Tapi sampai sekarang belum diketahui secara pasti apakah teknik itu sudah benar-benar punah atau masih diajarkan hingga saat ini. Hal ini juga mungkin dimaklumi karena belum terpikir menggunakan alat bantu atau alasan lainnya, sehingga teknik ini masih diajarkan dan diujikan ketika ujian praktek. Cara ini tentu sangat berbahaya, apalagi jika diterapkan dalam lingkungan kerja.

Foto di atas adalah bukti sejarah memang pernah ada yang melakukannya. Atau mungkin kamu juga adalah satu praktisinya? Atau jangan-jangan kamu adalah satu korban korban menghisap darah hingga masuk ke mulut? Mengerikan bukan.

Apalagi kita tentu mengetahui bahwa darah merupakan media terbaik untuk pertumbuhan bakteri. Jika cara ini masih diterapkan di rumah sakit tentu sangat melanggar SOP. Jika kamu masih melakukannya ada baiknya memeriksakan diri dari kemungkinan penyakit menular lewat darah. Khawatir kamu sudah menjadi carrier berbagai macam penyakit.

Oleh : www.twitter.com/AnalisMuslim

Saturday, March 15, 2014

Akhir dari Masa keemasan antibiotik


Resistensi antibiotik adalah kondisi dimana suatu strain bakteri dalam tubuh manusia menjadi resisten (kebal) terhadap antibiotik. Resistensi ini berkembang secara alami melalui mutasi dan juga bisa karena direkayasa oleh pemakaian obat antibiotik yang tidak tepat. Setelah gen resisten dihasilkan, bakteri kemudian dapat mentransfer informasi genetik secara horisontal (antar individu) dengan pertukaran plasmid. Mereka kemudian akan mewariskan sifat itu kepada keturunannya, yang akan menjadi generasi resisten. Bakteri bisa memiliki beberapa gen resistensi, sehingga disebut bakteri multiresisten atau “superbug”.
Resistensi antibiotik merupakan masalah kesehatan masyarakat utama di seluruh dunia. Ketika terinfeksi bakteri yang resisten antibiotik, pengobatan akan menjadi lebih sulit dan harus menggunakan obat yang lebih kuat dan lebih mahal dengan lebih banyak efek samping.
Banyak bakteri yang telah menjadi resisten terhadap antibiotik termasuk spesies yang menyebabkan infeksi kulit, meningitis, penyakit menular seksual, tuberkulosis, dan infeksi saluran pernapasan seperti pneumonia.
Bahkan saat ini antibiotik carbapenems misalnya yang dianggap antibiotik upaya terakhir ketika antibiotik lainnya sudah gagal mengobati infeksi namun bakteri usus sudah resisten terhadap antibiotik ini. Banyak para pakar medis sudah mewanti-wanti dalam waktu hanya 20 tahun operasi biasa saja bisa  mematikan jika kehilangan kemampuan untuk melawan infeksi.
Bahkan saat ini untuk mengobati gonorrhea hanya tinggal satu antibiotik yang tersisa.

BAHAN BACAAN :
http://majalahkesehatan.com/resistensi-antibiotik
http://gayahidup.inilah.com/read/detail/2081083/kasus-resistensi-antibiotik-meningkat-12000#.UyP5Kz9_tag

http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2013/01/130126_kesehatan_antibiotik.shtml

Friday, January 31, 2014

Analis Kesehatan yang Kompeten

Ilustrasi : thepathologycenter.org 
Kita tentu sangat sering mendengar Analis Kesehatan harus kompeten. Analis Kesehatan yang kompeten akan mengeluarkan hasil pemeriksaan yang akurat sehingga dapat dijadikan salah satu penentu dalam penanganan kesehatan pasien, pengendalian human error dan peningkatan kualitas. Lalu apa maksud dari kompeten dan kompetensi? Kompeten adalah ketrampilan yang diperlukan seseorang yang ditunjukkan oleh kemampuannya untuk dengan konsisten memberikan tingkat kinerja yang memadai atau tinggi dalam suatu fungsi pekerjaan spesifik. Sedangkan kompetensi adalah apa yang seorang mampu kerjakan untuk mencapai hasil yang diinginkan dari satu pekerjaan. Kinerja atau hasil yang diinginkan dicapai dengan perilaku ditempat kerja yang didasarkan pada pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), sikap (attitude) dan sifat-sifat pribadi lainnya.

Secara umum, kompetensi sendiri dapat dipahami sebagai sebuah kombinasi antara ketrampilan (skill), atribut personal, dan pengetahuan (knowledge) yang tercermin melalui perilaku kinerja (job behavior) yang dapat diamati, diukur dan dievaluasi.

Yang dimaksud dengan kompetensi adalah : seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggungjawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu. Kompetensi profesional didapatkan melalui pendidikan, pelatihan dan pemagangan dalam periode yang lama dan cukup sulit, pembelajarannya dirancang cermat dan dilaksanakan secara ketat, dan diakhiri dengan ujian sertifikasi (Keputusan Mendiknas Nomor 045/U/2002 tentang Kurikulum Inti Pendidikan Tinggi).

Dengan kompetensi yang memadai, Analis Kesehatan akan menghasilkan kinerja dan hasil pemeriksaan yang berkualitas. Kualitas  digambarkan sebagai totalitas keunggulan dari karakteristik suatu produk dan layanan berdasarkan kebutuhan untuk member kepuasan serta memenuhi kebutuhan konsumen.

Di laboratorium klinik, hasil pemeriksaan sangat bergantung juga dengan faktor sumber daya manusia, faktor sumber daya manusia bisa jadi merupakan salah satu faktor yang paling sulit untuk dikendalikan dan distandarisasi. Karena kinerjanya dapat dipengaruhi oleh banyak hal, seperti usia, tahap pemikiran, kesehatan fisik, sikap, emosi, dan adanya kecenderungan beberapa kesalahan umum seperti kekeliruan dan berat sebelah. Kesalahan manusia atau human error bahkan berkontribusi sangat besar dalam hal ini.
Oleh karena itu, manajemen laboratorium harus memastikan kompetensi semua sumber daya manusia yang mengoperasikan perlengkapan spesifik, mengerjakan pemeriksaan dan kalibrasi, mengevaluasi hasil, mengevaluasi kegiatan pemantapan mutu, dll. Teknisi dengan tugas khusus harus memenuhi syarat berdasarkan pendidikan yang tepat, pelatihan, pengalaman sesuai dengan yang dibutuhkan.

Pustaka :
prodia.co.id
labkesehatan.blogspot.com

Thursday, January 30, 2014

Haemophilus influenza : si bakteri penyebab influenza

Selama ini kita hanya mengetahui  penyebab influenza adalah virus. Namun ternyata bakteri juga berperan sebagai salah satu penyebab influenza. Dialah Haemophilus influenza yang pertama kali dijelaskan pada tahun 1892 oleh Richard Pfeiffer selama pandemi influenza. 
Haemophilus influenzae hidup komensal pada nasopharyng manusia normal (anak dan dewasa) dan tidak pernah mencapai cavum oris serta belum pernah dilaporkan dapat hidup pada hewan.
Haemophilus influenzae yang sebelumnya disebut basil Pfeiffer merupakan bakteri gram negative, kokobasil, non motil, serta tidak membentuk spora. H.influenzae ini termasuk family Pasteurellaceae, umumnya hidup secara aerobik, tetapi dapat juga
tumbuh sebagai anaerob fakultatif.
H.influenzae memiliki serotype dan dibedakan menjadi dua kategori utama yaitu unencapsulated strain (tidak berkapsul) dan encapsulated strain (berkapsul). Encapsulated strain diklasifikasikan berdasarkan antigen kapsuler yang berbeda, ada enam jenis encapsulated strain yang secara umum dikenali yaitu a,b,c,d,e,dan f. Sedangkan unencapsulated strain disebut nontypeable (NTHI) karena tidak memiliki antigen kapsuler.
Kapsul polisakarida tersebut (a-f) menyebabkan kuman resisten untuk difagosit dan dilisiskan oleh komplemen. Salah satu tipe kapsul tersebut yaitu Hib diketahui menjadi penyebab utama dari epiglotitis, pneumonia, bakteriemia,dan akut bacterial meningitis.
Unencapsulated Haemophilus influenzae memiliki daya invasive yang lemah, namun dapat juga menyebabkan penyakit seperti otitis media, konjungtivitis, dan sinusitis pada anak.
Umumnya H.influenzae yang hidup komensal adalah tipe NTHi (unencapsulated), namun encapsulated H.influenzae (Hib) dapat pula ditemukan pada saluran napas atas 3-7% manusia normal. Frekuensi infeksi H.influenzae meningkat pada pasien
dengan asplenia, anemia sel sabit, splenektomi, keganasan, serta anak di bawah 2 tahun tanpa vaksinasi.
Diagnosis H.influenzae secara laboratoris dapat dilakukan dengan kultur, latex particle agglutination, maupun PCR.
Spesimen diambil dari dari bagian tubuh yang steril dari kuman tersebut. Adanya H.influenzae pada sputum atau dari nasopharyng tidak mengindikasikan adanya infeksi H.influenzae sebab kuman tersebut dapat ditemukan pula pada manusia normal dengan spesimen tersebut.
Beda halnya apabila kuman H.influenzae ditemukan di LCS atau darah, hal tersebut
menunjukkan bahwa terdapat infeksi H.influenzae Haemophilus influenzae juga memiliki interaksi dengan Streptococcus pneumonia yang juga merupakan flora normal saluran nafas atas.
Pada salah satu penelitian in vitro dikemukakan bahwa S.pneumonia mendominasi pertumbuhan H.influenza dengan cara menghasilkan hidrogen peroksida dan mengurangi area tumbuh H.influenzae. Apabila H.influenzae bersama dengan S.pneumonia ditempatkan bersama pada cavum nasi selama 2 minggu, hanya H.influenzae saja yang akan bertahan hidup karena S.pneumonia yang mati akan mengirimkan sinyal kepada sistem imun host untuk memfagositnya.
Haemophilus influenzae dalam pertumbuhannya membutuhkan faktor X dan faktor V. Faktor X atau hemin merupakan substansi kompleks yang terdapat ikatan antara Fe dan porfirin. Secara spesifik, hemin adalah protoporfirin IX yang mengandung ion Fe dan clorida.
Sedangkan faktor V adalah nicotinamide adenine dinucleotide (NAD) merupakan koenzim yang berperan dalam reaksi redox pada metabolisme sebagai pembawa elektron.
Kedua faktor pertumbuhan tersebut terdapat di dalam eritrosit. Di laboratorium kedua faktor tersebut didapatkan dengan cara memanaskan darah pada suhu 80OC, eritrosit melepaskan NAD dan hemin serta membuat media tersebut berwarna coklat sehingga disebut coklat agar.
Pertumbuhan H. influenzae umumnya dilakukan pada inkubasi CO2 5,5% dengan
suhu 37OC dan pH optimum 7,6 walaupun kuman tersebut dapat tumbuh pada suasana aerob dengan menggunakan nitrat sebagai akseptor elektron final. Haemophilus influenzae juga dapat tumbuh pada zona hemolisis Staphylococcus aureus karena di zona tersebut terdapat factor X dan V yang dibutuhkannya untuk
tumbuh, sebaliknya H.influenzae tidak akan tumbuh diluar zona hemolisis S.aureus karena kurangnya nutrisi di zona tersebut.

Pustaka
Duta Indriawan, optimalisasi agar coklat darah manusia sebagai media uji sensitivitas antibiotik terhadap Haemophilus influenzae : peran pencucian eritrosit sebanyak empat kali, proposal Karya Tulis Ilmiah mahasiswa program strata-1 kedokteran umum, PROGRAM PENDIDIKAN SARJANA KEDOKTERAN, FAKULTAS KEDOKTERAN, UNIVERSITAS DIPONEGORO, Semarang, 2012

Wednesday, January 15, 2014

Cara mengontrol gula darah

Banyak penderita DM yang merasa putus asa ketika mengetahui dirinya sudah divonis DM. Apalagi dengan banyaknya komplikasi DM yang sangat mengerikan bahkan banyak berakhir dengan kematian. Namun ternyata hal tersebut dapat dicegah asalkan disiplin dalam mengontrol gula darah. Berikut cara pengontrolan kadar gula darah yang meliputi : 

1.Penjagaan makanan. Penderita sebaiknya mengonsumsi makanan dengan karbohidrat rendah dan lambat menjadi gula. Perbanyak mengonsumsi buah dan sayuran terutama kubis, kacang panjang, dan paprika untuk memperbaiki fungsi pankreas. Pengaturan pola makan membutuhkan kedisiplinan. Sebaiknya konsultasikan dengan ahli gizi mengenai pola makan yang tepat bagi penderita DM. 

2.Olahraga yang teratur. Olahraga yang benar dapat memberikan beberapa manfaat, antara lain menurunkan kadar gula darah (dengan mengurangi resistensi insulin, meningkatkan sensivitas insulin), menurunkan berat badan, mencegah kegemukan, serta mengurangi kemungkinan terjadinya komplikasi 

3.Minum obat secara rutin. Penggunaan obat penurun gula darah diberikan setelah dengan cara pengaturan makan dan olahraga kadar gula darah belum terkontrol. 

4.Cukup istirahat dan menghindari stress. Faktor stress juga bisa berpengaruh terhadap peningkatan kadar gula darah. Peran dan dukungan dari keluarga sangat dibutuhkan untuk membantu dan mengingatkan penderita DM agar bisa mengelola penyakitnya dengan baik. Jika kada gula darah dapat  terkontrol dengan baik, insyaAllah tidak akan terjadi komplikasi penyakit DM. Semoga bermanfaat. 
Oleh : dr. Adika Mianoki

Sumber : Majalah Kesehatan Muslim edisi 2

Tuesday, January 14, 2014

Elektrolit Klorida


Klorida merupakan anion utama dalam cairan ekstrasel. Pemeriksaan konsentrasi klorida dalam plasma berguna sebagai diagnosis banding pada gangguan keseimbangan asam-basa, dan menghitung anion gap.Jumlah klorida pada orang dewasa normal sekitar 30 mEq per kilogram berat badan. Sekitar 88% klorida berada dalam cairan ekstraseluler dan 12% dalam cairan intrasel. Konsentrasi klorida pada bayi lebih tinggi dibandingkan pada anak-anak dan dewasa. Keseimbangan Gibbs-Donnan mengakibatkan kadar klorida dalam cairan interstisial lebih tinggi dibanding dalam plasma. Klorida dapat menembus membran sel secara pasif. Perbedaan kadar klorida antara cairan interstisial dan cairan intrasel disebabkan oleh perbedaan potensial di permukaan luar dan dalam membran sel. Jumlah klorida dalam tubuh ditentukan oleh keseimbangan antara klorida yang masuk dan yang keluar. Klorida yang masuk tergantung dari jumlah dan jenis makanan. Kandungan klorida dalam makanan sama dengan natrium. Orang dewasa pada keadaan normal rerata mengkonsumsi 50-200 mEq klorida per hari, dan ekskresi klorida bersama feses sekitar 1-2 mEq perhari. Drainase lambung atau usus pada diare menyebabkan ekskresi klorida mencapai 100 mEq perhari. Kadar klorida dalam keringat bervariasi, rerata 40 mEq/L. Bila pengeluaran keringat berlebihan, kehilangan klorida dapat mencapai 200 mEq per hari. Ekskresi utama klorida adalah melalui ginjal.
Nilai Rujukan Klorida
serum bayi baru lahir - serum anak  - serum dewasa  - keringat anak  - keringat dewasa - urine   - feses   : 94-112 mmol/L : 98-105 mmol/L : 95-105 mmol/L : <50 mmol/L : <60 mmol/L : 110-250 mmol/24 jam : 2 mmol/24 jam

Sumber :
Fisiologi dan Gangguan Keseimbangan Natrium, Kalium dan Klorida  serta Pemeriksaan Laboratorium, Rismawati Yaswir, Ira Ferawati, Jurnal Kesehatan Andalas. 2012; 1(2)

Wednesday, January 8, 2014

Eosinofil

Eosinofil memiliki diameter kira-kira 8 μm dengan inti sel biasanya berupa bilobus, kadang dapat ditemui tiga atau lebih lobus. Eosinofil ditandai oleh granul kristaloid besar yang dikenal sebagai granul  spesifik atau sekunder, berwarna merah terang setelah pewarnaan dengan zat pewarna asam seperti eosin pada mikroskop cahaya.
Pembentukan eosinofil terjadi di sum-sum tulang yang merupakan tempat terjadinya hematopoiesis. Pematangan granulosit ditandai dengan sintesis protein oleh retikulum endoplasma kasar dan  kompleks Golgi dalam dua tahap. Tahap pertama, protein yang dihasilkan akan dikemas dalam granul  azurofilik. Pada tahap kedua, protein yang dihasilkan dikemas dalam granul spesifik yang digunakan untuk  berbagai aktivitas.
Diferensiasi eosinofil terjadi akibat pengaruh dari T-cell derived eosinophilopoietic cytokines dan  growth factor yaitu interleukin-5 (IL-5), interleukin-3 (IL-3), dan Granulocyte/Macrophage-Colony Stimulating Factor (GM-CSF). IL-3 dan GM-CSF memiliki peran dalam hematopoiesis turunan sel darah yang lain, sedangkan IL-5 bersifat lebih spesifik terhadap perkembangan dari eosinofil
Eosinofil memiliki fungsi yang dijalankan dalam peran yang berbeda, yaitu dalam peran efektor dan peran kolaboratif. Eosinofil memiliki kemampuan melakukan fagositosis dan eliminasi bakteri dan mikroorganisme lainnya. Eosinofil menghasilkan dua mediator lipid yang terlibat dalam penyakit alergi  (termasuk asma) yaitu leukotrien C4 dan PlateletActivating Factor (PAF). Mediator tersebut menyebabkan kontraksi otot polos saluran napas, meningkatkan produksi mukus, meningkatkan permeabilitas vaskular, dan membantu infiltrasi eosinofil dan neutrofil. Eosinofil diyakini memiliki kemampuan untuk bekerja sama dengan limfosit dan sel imun serta mesenkimal lain yang berperan dalam kesehatan dan penyakit, seperti kemampuan berperan sebagai antigen presenting cell (APC)

Sumber : Demas Nico M. Manurung, Ellyza Nasrul, Irvan Medison , Gambaran Jumlah Eosinofil Darah Tepi Penderita Asma Bronkial di Bangsal Paru RSUP Dr. M. Djamil Padan, Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Jurnal Kesehatan Andalas. 2013

Friday, January 3, 2014

Pengaruh vitamin terhadap Leukosit


Pertahanan tubuh manusia tidak lepas dari peranan leukosit. Leukosit merupakan sel yang dapat merespon adanya benda-benda asing yang masuk ke dalam tubuh yang dapat menimbulkan peradangan dan infeksi. Pada umumnnya, leukosit mempunyai berbagai macam jenis dan fungsi. Secara garis besar, jenis-jenis leukosit memiliki tugas yang sama yaitu sebagai pertahanan terhadap benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Jenis-jenis leukosit tersebut yaitu neutrofil, eosinofil, basofil, limfosit, dan monosit. Sistem pertahanan tubuh tidak selamanya mampu untuk melawan benda asing, misalnya virus, bakteri patogen, atau produk-produk bakteri. Oleh karena itu, perlu adanya dukungan untuk meningkatkan daya guna leukosit, yaitu berupa zat nonenzimatik. Zat nonenzimatik tersebut dapat berupa vitamin. Vitamin yang berperan dalam perbaikan sel yaitu vitamin C dan E. Vitamin E digunakan untuk mempertahankan dan melindungi lipid di dalam tubuh, sedangkan vitamin C berfungsi untuk melindungi cairan dalam tubuh, seperti plasma darah. Selain itu, vitamin C melindungi bagian darah yang sensitif terhadap oksidan dan melindungi vitamin. Vitamin E itu terbagi menjadi 2 jenis yaitu tokoferol dan tokotrienol. Tokotrienol diyakini memiliki sifat antioksidan tinggi yaitu 50 kali lebih besar dalam induksi peroksidasi lipid dan 6,5 kali lebih besar sebagai pelindung dari kerusakan oksidatif sitokrom bila P-450 dibandingkan dengan α-tokoferol. Menurut fungsinya di dalam tubuh, vitamin E memegang peranan penting dalam perbaikan sel.