Monday, January 30, 2012

Teknik Histologi

Oleh : Heru Susanto,S.Si

Teknik Histologi adalah tahapan2 dalam melakukan teknik sito-histologi dimulai dari mendapatkan jaringan sampai dihasilkan preparat yang siap diperiksa secara mikroskopis

Tahapan Teknik Sito-Histologi
  1. Mendapatkan Jaringan
  2. Fiksasi
  3. Dehidrasi
  4. Clearing
  5. Embedding
  6. Sectioning/Cutting
  7. Mounting
  8. Staining
  9. Labeling

Mendapatkan Jaringan
  • Jaringan harus diduga tumor atau kelainan
  • Jaringan harus sudah difikasasi sebelum 6 jam setelah kematian, bisa terjadi maserasi
  • Pemotongan menggunakan pisau tajam ukuran biasanya (1,5x1x0,5) cm3
  • Mendapatkan Jaringan
  • Harus segera dimasukkan ke dlm larutan fiksasi (Volume 40x) selama 1 malam

-  Tidak boleh dicuci dg air (terjadi perubahan tekanan osmotik
 - Tidak boleh disimpan dlm NaCl 0,9 % -maserasi
- Tidak boleh dibekukan-pembentukan kristal es dlm sitoplasma
            -Jaringan berbentuk tulang harus didekalsifikasi agar lunak dg HCl 0,5 % 

Fiksasi Jaringan
Fiksasi Jaringan adalah Proses mengawetkan jaringan agar awet dan kondisinya sama seperti hidup. Dilakukan dengan merendam jaringan ke lart fiksasi (volume min 20x besar jar) selama 24  jam
Fiksasi Jaringan
Manfaat Fiksasi :
Sel & jar keadaannya seperti  hidup
Membunuh Bakteri
Mematikan sel secara serentak
Mengeraskan jaringan
Melindungi sel dari prosesselanjutnya
Mempermudah pengecatan
Melindungi sel/jar dari autolysis dan putrefaction

Fiksasi Jaringan
Berdasar Cara Kerja :
P  Precipitant  fixatives (mengkoagulasikan protein) ex : Mercuri klorida, alkohol
P  Non Precipitant fixatives (mendenaturasikan protein) ex : Potassium diphosphat
Berdasar Tujuan Pemakaian :
P  Micro Anatomical Fixatives (melihat komponen jar scr keseluruhan) ex : susa, Bouin, Zenker
P  Cytological Fixatives :
                melihat komponen  inti, ex : Fleming, Corney, Sanpelice.
                melihat komponen sitoplasma,  ex : Formaldehida (5% Formal saline), Fleming dikurangi asam asetat galsial,
BERDASARKAN KOMPOSISINYA
ü  Simple fixative (Zat fiksatif  yang dipakai tunggal) ex : Mercuri Chlorida, Alkohol, Picric Acid, Chromic Acid
ü  Compound  fixatives (Zat fiksatif yang digunakan secara gabungan) ex : NaCl Formalin, Suza, Zenker, dsb.
Kecepatan penetrasi zat Fiksatif  Berbeda-beda
ü  Paling cepat : asam acetat glacial
ü  Paling lambat : Osmium Tetraoksida (OsO4)
SIFAT ZAT FIKSATIF
    Alkohol                                                 - Mengeraskan jaringan.
                                                               - Daya penetrasi kuat.
                                                               - Melarutkan kromatin
    Asam Asetat Glasial- Melunakan  jaringan.
                                                               - Daya penetrasi kuat.
                                                               - Memfiksasi  kromatin

Dehidrasi
Proses penarikan air secara aktif dari dalam jaringan
Proses Dehidrasi
Untuk memudahkan proses infiltrasi parafin ke dalam jaringan menggunakan alkohol dari konsentrasi rendah-tinggi
Proses Dehidrasi
}  Contoh Proses Dehidrasi
ü   alkohol 70%.......... 1 hari
ü  alkohol 80%........... 1 hari
ü  alkohol 90%........... 1 hari
ü  alkohol 95% .......... 1 hari
ü  alkohol 95% .......... 1 hari
ü  alkohol 100% ........ 1 hari
ü  alkohol 100% ........ .1 hari
 Alkohol dapat dimurnikan kembali dengan cuprisulfat (CuSO4) Cuprisulfat -putih (tak mengandung air) akan berubah menjadi biru (mengandung air). Ganti cuprisulfat beberapa kali hingga warnanya tetap putih walaupun telah disimpan beberapa hari. Cuprisulfat yang telah bewarna biru karena mengandung air dapat di hilangkan airnya dengan cara memanaskan.
Proses Dehidrasi
Lamanya waktu tergantung pada :
    • Besar kecilnya jaringan
    • Konsentrasi jaringan
    • Macam zat fiksasi yang dipakai
    • Sifat clearing agent yang dipakai
Proses Clearing
Syarat clearing agent harus melarutkan alkohol dan parafin
Clearing agent yang biasa dipakai :
    • Xylene.
    • Benzene
    • Toluen
    • Chloroform
EMBEDDING
Embedding adalah Proses memasukkan jaringan ke dlm parafin cair untuk dibuat blok yg padat
Meliputi :
q  Impregnation
q  Blocking
q  Trimming
Proses Embedding
Impregnation.
proses penggantian larutan toluen dengan parafin cair
Blocking.
Memasukkan jaringan ke dalam parafin cair - dipadatkan (menurunkan suhu parafin)-dicetak
Trimming.
Meratakan/merapikan jaringan yg telah diblock parafin dengan menggunakan pisau atau langsung dengan mikrotome, sehingga pada saat pemotongan didapatkan potongan bentuk jaringan yang baik
Proses 
SECTIONING / CUTTING
Sectioning adalah proses pemotongan jar dengan mikrotom-ukuran sangat tipis 4-10 µ-tembus cahaya saat diperiksa dg mikroskop
Diperhatikan :
P  Pisau harus tajam
P  Blok jaringan harus dingin
P  Ketebalan pemotongan harus disesuaikan dengan jenis jaringan
Proses Sectioning
Dinginkan pada lemari es / cold plate - akan terlepas dari cetakan bloknya dan tempatkan pada hold mikrotome untuk dipotong  (ketebalan 3 – 5 µ) -membentuk lembaran pita
MOUNTING
Menempelkan potongan jaringan yg baik ke obyek glass
Proses Mounting
}  Obyek glass diberi albumin agar Jar menempel dg baik
}  Dimasukkan ke dalam water bath suhu 30 0C - lembaran pita tidak melipat
}  Bila sudah menempel dikeringkan/ diriskan (Bisa dg Hot Plate)
}  Stretching tissue in warm water.
Staining
 mewarnai preparat
Staining
Macam pewarnaan berdasarkan asal zat warna :
Natural Dyes,
Acid Carmine : ekstrak serangga betina yang hidup di pohon kaktus di daerah tropis.
Hematoxyline : getah pohon Haematoxylinecampechianum
Syntetic Dyes
Benzene, Quinone, Anilline.
Staining
Prinsip Kerja Pewarnaan :
ü  Secara umum zat warna yang bersifat asam akan mewarnai bagian sel yang bersifat basa dan sebaliknya
ü  cat netral (gugus asam dan gugus basa keduanya berwarna) Misal :
ü  Romanowsky ,(Camp methylen Blue & Eosin)
Staining
Berdasarkan waktu :
  • Direct Staining, molekul zat warna langsung ditangkap oleh jaringan, misalnya Eosin
  • Indirect Staining, molekul zat warna baru bisa ditangkap oleh jaringan jika menggunakan zat perantara yang disebut Mordant, misalnya Haematoxyline menggunakan Potasium Alum sebagai mordantnya.
Pewarnaan Hematoksilin-Eosin (HE)
Menggunakan 2 macam zat warna yaitu
q  Hematoksilin -memulas inti sel dan memberikan warna biru (basofilik)
q  Eosin yang merupakan counterstaining hematoksilin, memulas sitoplasma sel dan jaringan penyambung dan memberikan warna merah muda dengan nuansa yang berbeda. 
Interpretasi hasil :
P  Inti sel bewarna   biru
P  Sitoplasma bewarna kemerahan dengan adanya beberapa variasi warna pada komponen tertentu

0 comments:

Post a Comment